Waspadai Hernia pada Bayi
Sore ini kami pulang dari dokter dengan lesu, saya dan uly lebih banyak diam dan tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Suasana rumah di akhir pekan pun menjadi agak suram. Kabar dari dokter bahwa lex menderita hernia sangat mempengaruhi kami.
Hari ini sudah saatnya lex mendapatkan suntikan lanjutan imunisasinya. Sebenernya jadwalnya sih kemarin, tapi karena kami mencari waktu saat saya libur (sabtu), kami akhirnya mencari dokter lain yang jadwal prakteknya cocok. Setiba di rumah sakit kami harus memilih antara dua dokter, yaitu dr. Y dengan antrian sudah 16 pasien (dan masih belum ada yg diperiksa) dan dr. K dimana kami dapat langsung diperiksa. Wah, mau menunggu sampai 16 pasien sepertinya sangat tidak mungkin, tapi ragu juga dengan dr. K yang (ko berbeda sangat jauh karena) belum ada pasien ini. Tapi akhirnya kami memutuskan untuk menemui dr. K. Penampilan beliau sangat rapi, senyum penyambutannya pun cukup hangat.
Setelah pemeriksaan rutin, kami menanyakan adanya benjolan yang timbul pada bagian bawah perut lex sebelah kiri. Benjolan ini akan mengeras saat dia menangis, dan kembali kempes saat dia tidur/tenang. Setelah memeriksa dokter mulai menjelaskan mengenai hernia. Kami lumayan terkejut mendengar penjelasannya dengan beragam istilah rumit yang tidak kami mengerti. Tapi ternyata kejutan itu baru seperempat dari kejutan berikutnya, saat kami diberitahukan bahwa operasi ialah jalan satu2nya untuk kesembuhan. Saya tidak bisa membayangkan kalau lex dalam usia sedini ini sudah harus masuk ke ruang operasi. Dari ekspresi uly saya yakin dia juga memikirkan hal yang sama. Saya mencoba menanyakan alternatif lain yang mungkin diambil, tapi dr. K cukup tegas menyatakan bahwa operasi harus dilakukan. Setelah imunisasi selesai, beliau memberikan surat pengantar untuk kami bawa ke dr. rekanan-nya yang bisa melakukan pembedahan. Sesaat sebelum kami pulang pun beliau sempat berkomentar bahwa lex “pasti” harus di operasi.
Keluar dari RS saya dan uly hanya bisa saling melihat terdiam. Kami seperti belum berani mengutarakan isi hati dan pikiran kami masing-masing. Sejujurnya, yang saya rasakan saat itu ialah kesal dan (sedikit) tidak percaya pada dr. tersebut. Sementara uly sepertinya merasa sangat sedih dan bingung. Setelah diskusi akhirnya kami memutuskan untuk mencari 2nd opinion dari dokter lain (bukan dari dokter rekanan yang disarankan). Kami putuskan malam ini untuk mencari informasi sebanyak2nya tentang hernia, dan besok kami sudah harus mendapatkan 2nd opinion tersebut. Meski kami sudah mengambil keputusan, tetap sesampai di rumah kami lebih banyak berdiam.

Hari ini lex bikin papa mamanya panik, “code yellow! code yellow!”. Syukurnya belum sampai code red. Ceritanya hari ini pulang seperti biasa sampai rumah sekitar jam 7. Setelah makan malam kami langsung masuk kamar. Lex baru mulai rewel. Harusnya sudah jam ganti shift, papa lex kebagian jatah jaga setelah makan malam sampai sekitar jam 2 pagi supaya mama lex bisa istirahat dulu. Tapi kebetulan mama masih blom bobo, jadi papa ngalah dulu deh