Dahlan Iskan, Jokowi dan Ahok

Share More

Dahlan IskanAda apa dengan 3 nama ini? Inilah 3 nama pertama yang mengembalikan keyakinan saya bahwa masih ada harapan untuk indonesia. Kalau saya coba ingat-ingat, sejak kecil saya sudah tidak ada niat untuk jadi PNS atau sejenisnya. Walaupun sebenarnya kalau mau belum tentu juga diterima 😛 tapi saya sudah terlanjur apatis dengan sistem yg ada. Saya melihat arus deras dan memutuskan untuk tidak lompat ke dalamnya. Bahkan setelah adanya reformasi, yg saya lihat sebagai rakyat biasa kondisi justru seperti makin memburuk. Mungkin bisa dbilang seperti kelompok mafia yang kehilangan godfather-nya, malah berantakan dan tidak terkendali. Tidak perlu melihat sampai mereka yg korupsi besar-besaran, dari hal-hal kecil saja masih terasa di banyak kantor-kantor pemerintahan.

Sampai kira-kira sekitar 3 tahun lalu, saya yg asyik sendiri dan tidak terlalu peduli dengan urusan pemerintahan apalagi politik tiba-tiba mendapatkan angin segar. Saya sebagai blogger ga niat suatu hari menemukan blog yang sangat menarik, Catatan Dahlan Iskan. Melihat gaya beliau yang jauh berbeda dari umumnya pejabat memberi secercah harapan buat perbaikan bangsa. Saya hanya mulai dari sekedar membaca blog tersebut sekali-sekali, lalu mengikuti berita-berita dan akhirnya menemukan grup fb GERAKAN RAKYAT DAN FACEBOOKER MENDUKUNG DAHLAN ISKAN JADI PRESIDEN. Kalau tidak salah ingat waktu join dulu namanya belum seperti sekarang, karena saya sempat bingung waktu namanya berubah dan saya tidak ingat join grup dengan nama baru tersebut. Tapi tidak apa-apa, saya juga akan sangat senang kalau “abah” jadi presiden (begitu beliau banyak dpanggil oleh pengagumnya).

Lalu pada pemilihan kepala daerah DKI kemarin saya menemukan 2 nama baru (baru buat saya), yaitu Jokowi dan Ahok. Walaupun tidak yakin bisa ikut memilih karena sedang berdomisili di daerah lain, sebagai pemegang ktp jakarta saya merasa penasaran. Saya coba cari informasi mengenai kedua nama tersebut. Dari hasil pencarian saya, saya menemukan peristiwa yang saya anggap fenomenal pada keduanya:

  • Jokowi memenangkan pilkada periode keduanya di Surakarta (Solo) dengan total suara melebihi 90%
  • Ahok yang notabene keturunan Tionghoa dan beragama Kristen memenangkan pilkada Belitung Timur yang mayoritas memeluk agama Islam

Saya percaya ada makna besar di balik kedua peristiwa tersebut, karena kepercayaan masyarakat di kedua daerah tersebut tidak mungkin tanpa alasan. Setelah mencari informasi tambahan, saya temukan juga bahwa mereka memiliki banyak kesamaan. Beberapa di antaranya ialah pentingnya jaminan kesehatan dan pendidikan untuk rakyat, keterbukaan dalam mengelola pemerintahan dan sepak terjangnya yang terlihat jauh dari kepentingan pribadi apalagi golongan tertentu. Sikap dan bahasa tubuhnyapun sangat berbeda dengan pejabat pada umumnya mengingatkan saya kepada orang pertama yang memberikan saya harapan, Dahlan Iskan. Darah saya mulai memanas, saya melihat kesempatan untuk Indonesia yang lebih baik semakin besar, terlebih setelah mereka akhirnya menang.

Jokowi AhokSetelah kemenangan tersebut, berita-berita mengenai jokowi dan ahok menjadi incaran saya tiap hari. Saya selalu heran dengan mereka yang meributkan masalah pencitraan, tidakkah mereka tahu bahwa media berita tentu akan selalu berusaha memenuhi apa yang dicari oleh penyimaknya, dan saya yakin bukan hanya saya orang yang seperti kehausan akan informasi mengenai pembawa perubahan. Kalau memang pencitraan itu mudah, kenapa mereka yang punya banyak duit apalagi bos media tidak coba saja lakukan hal yang sama? Citra tanpa bukti nyata juga tidak akan berhasil. Contohnya, walaupun saya tidak mendukung SBY di pemilu sebelumnya, beliau yang banyak dicap pencitraan oleh para lawan politiknya tetap tidak akan berhasil kalau tidak ada bukti nyata yang dilihat oleh pendukungnya saat itu. Jelas terlihat sekarang bagaimana citra itu hancur saat kebobrokan di dalam Partai Demokrat terkuak. Karena tanpa peserta konvensi dan khususnya Dahlan Iskan saya rasa tidak mungkin PD bisa mendapatkan suara sebesar perolehan kemarin. Intinya, saya percaya citra tidak akan terbentuk tanpa adanya bukti nyata.

Tapi, pada akhirnya saya dihadapkan pada suatu dilema. Jokowi yang sebenarnya saya harapkan terlebih dahulu menyelesaikan permasalahan Jakarta ternyata banyak mendapat dukungan untuk menjadi capres. Sepertinya cukup banyak warga di luar DKI yang tidak sabar menginginkan pemimpin seperti beliau. Perkembangan ini menyebabkan kedua orang yang saya kagumi akan sama-sama melangkah menuju persaingan menjadi presiden. Saya pikir, siapapun yang menang saya tetap yakin bisa membawa indonesia lebih maju, apalagi kalau sampai bergabung, pasti tidak akan terkalahkan. Walau saya berharap seperti itu, tapi saya juga harus siap memilih salah satu seandainya mereka berseberangan. Sayapun mulai membanding-bandingkan, antara abah dan jokowi, siapa yang kira-kira akan saya dukung. Kalau saya bandingkan secara sederhana saja, jelas abah lebih senior, lebih berpengalaman dan memiliki lebih banyak prestasi. Lalu bagaimana dengan jokowi, saya coba bandingkan lagi bukan hanya sekedar jumlah tapi kini lebih pada cara kerja mereka. Keduanya tau pentingnya blusukan, atau istilah kerennya Gemba, yaitu terjun langsung ke lokasi yang bermasalah. Dalam pelaksanaannya abah jelas sudah lebih meluas, blusukan beliau sudah sammpai ke seluruh pelosok indonesia sementara blusukan jokowi masih di seputar wilayahnya saja. Perbandingan pun saya teruskan, sampai satu titik saya melihat, apakah yang sebenarnya lebih dibutuhkan oleh indonesia saat ini? Abah punya visi misi besar, membangun indonesia menjadi besar dengan hal-hal baru dan tidak saya ragukan sedikitpun abah pasti bisa. Jokowi kalau saya perhatikan lebih fokus melakukan perbaikan di dalam dan hal-hal yang lebih sederhana, praktis atau masalah yang nyata di depan mata. Walaupun kita lihat ahok sang wakil seperti lebih banyak bergerak secara detail, keluwesan ahok tidak akan akan mungkin terlihat tanpa ijin dan restu jokowi sebagai gubernur. Apalagi kalau jokowi memang gila pencitraan seperti yang digembar-gemborkan selama ini, dan nyatanya mereka bisa bekerja dengan kekompakan yang sangat unik.

Dahlan Iskan dan Jokowi

Sekilas sepertinya ini adalah keputusan yang mudah, abah lebih unggul dari jokowi di banyak hal. Tapi saya kembali ke perntanyaan utama saya tadi, apa yang menurut saya lebih dibutuhkan oleh indonesia saat ini? Saya coba renungkan kembali, mengingat bagaimana kelakuan banyak teman-teman sebangsa kita sehari-hari. Bagaimana kejujuran sudah seperti barang langka dan kepedulian pada sesama sudah seperti barang antik. Mereka yang baik tidak jarang justru menjadi yang terpojok, seolah-olah merekalah yang salah. Hal-hal sederhana seperti antri, membuang sampah pada tempatnya dan mengikuti peraturan masih banyak dianggap tidak penting. Orang tua mungkin tidak pernah mengajarkan yang buruk, tapi contoh nyata dilihat oleh generasi penerus kita sehari-hari. Ajaran apapun yang kita berikan pada anak kita akan mudah dikalahkan oleh contoh nyata di depan mata mereka. Saya percaya, sebelum indonesia berkembang besar, indonesia harus terlebih dulu memperbaiki hal-hal sederhana dan dasar tersebut. Saya rindu melihat visi misi besar abah untuk indonesia ter-realisasi, tapi sebelumnya saya percaya indonesia lebih dulu butuh perbaikan dari dalam. Saya yakin visi misi abah akan terleasisasi jauh lebih cepat dan lebih baik apabila kita sudah berhasil berbenah diri terlebih dahulu. Rakyat membenci para koruptor, tapi rakyat tidak sadar bahwa kita sendiri butuh banyak perbaikan. Tanpa perbaikan itu bahkan kita yang berteriak lantang membenci koruptor tetap berkemungkinan besar untuk jatuh di lubang yang sama saat mendapatkan kesempatan. Karena itu, saya ambil keputusan dan berkata dalam hati, “Maaf abah, untuk pemilu kali ini saya akan dukung jokowi”.

Sayangnya perahu yang digunakan oleh abah tidak jelas arah tujuannya dan beliau gugur sebelum mendapatkan kesempatan bertarung. Sedihnya lagi, saya lihat pendukung kedua orang yang saya kagumi ini banyak yang justru saling membenci. Saling hina, saling hujat dan saling menjatuhkan. Akar pahit dari perseteruan yang bahkan terjadi sebelum peperangan resmi dimulai bisa saya rasakan dan sangat saya sayangkan. Saya harap share ini bisa sedikit membukakan pikiran teman-teman di grup yang sering menganggap atau memperlakukan saya seperti seorang penyusup. Sebagai pendukung jokowi, sekali lagi saya hanya bisa menyampaikan permohonan maaf atas perkataan apalagi perbuatan pendukung jokowi yang lain yang telah menyakitkan hati. Saya tidak minta anda untuk mengikuti saya memilih jokowi atau mengikuti kecenderungan abah yang sampai saat ini setahu saya ialah ke jokowi. Yang terutama, janganlah kita masuk ke dalam bilik suara dengan hati dengki dan memutuskan pilihan hanya karena sakit hati apalagi bisikan-bisikan berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Lihatlah kedua pilihan kita yang tersisa, bandingkan apa visi misi mereka dan apa bukti nyata yang telah mereka berikan selama ini. Janganlah mudah terpengaruh apalagi terhadap benih kebencian, tetap kritis secara netral dan pilihlah yang terbaik menurut suara hati kita masing-masing, Demi Indonesia.

Siapapun nanti yang akhirnya memenangkan pertarungan, tetap kita doakan bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik dengan cara mereka. Saya yakin kedepannya akan ada lagi dan bahkan sudah mulai terdengar nama-nama pemimpin lain sebagai pembawa perubahan. Atas segala keterbatasan saya dalam menulis mohon dimaklumi, jangan ragu memberikan masukan, tanggapan atau bahkan kritiki, salam!

* Gambar diambil tanpa ijin dari:

  1. Catatan Dahlan Iskan
  2. davinanews.com via this blog
  3. Berita Manado Express

Share this Post More

3 Responses to “Dahlan Iskan, Jokowi dan Ahok”

  1. yemington Says:

    hmm..semangat damai dlm pluralitas yg patut diteladani..justru damai yg sesungguhnya semakin hilang di negeri ini,,dan itu pula yg sangat sulit untuk diteladani bahkan untuk dunia sekarang..ntahlah bro..mgkin klo sdh damai dunia ini barulah dunia kiamat dan masuk dunia baru..

  2. kocu Says:

    iya bro, sedih tapi itulah kenyataan. Sepertinya sekarang ada sedikit harapan 🙂 prosesnya pasti tidak bisa dalam waktu singkat, paling tidak kita persiapkan yang lebih baik untuk anak cucu kita 😉

  3. AquaQQ Says:

    PoloQQ

Leave a Reply