Melirik RUU Pornografi

Share More

Hal-hal yang berbau porno memang sangat menjual ya, dalam bentuk RUU saja bisa menjadi bahan perdebatan dan berita yang hot di mana-mana (^_^) Saya sendiri sebenernya tidak terlalu tertarik. Tapi setelah mendengar dan membaca beragam pendapat yang saling bertentangan sepertinya seru juga.

Sedikit tentang Pornografi

Pornografi dalam wiki dijelaskan berasal dari bahasa Yunani pornographia yang secara harafiah berarti tulisan/gambar tentang pelacur. Yang kemudian dijelaskan sebagai penggambaran tubuh manusia atau perilaku seksual manusia dengan tujuan membangkitkan rangsangan seksual. Sejarah membuktikan bahwa pornografi bukanlah hal baru di dunia, termasuk Indonesia.

Sudah banyak negara lain mengatur legalitas pornografi sesuai dengan budaya dan nilai yang dimiliki oleh masing-masing negara. Saya sendiri berpendapat Indonesia perlu mengatur distribusi dan batas konsumsi pornografi. Eits, tapi bukan berarti saya Pro RUU Pornografi, dan juga bukan berarti saya kontra.

Sedikit tentang RUU Pornografi

Saya terkejut saat pertama mendengar hebohnya RUU mengenai pornografi, langsung timbul pertanyaan “Apakah sejak dulu tidak ada sama sekali UU yang mengatur hal ini?”. Sayangnya saya memang bukan orang yang fasih masalah hukum, UU dan sejenisnya. Tapi sangat sering saya dengar/baca pendapat dari kubu kontra RUU Pornografi bahwa sudah ada UU yang cukup efektif untuk mengatur masalah pornografi, katanya sih hanya pengaplikasiannya saja yang tidak ketat (entah mengapa sepertinya terdengar sangat tidak mengejutkan).

Cara pandang kita akan mempengaruhi keputusan dan tindakan kita. Saya bisa memiliki banyak nama panggilan di banyak tempat, tapi perbedaan nama tidak akan merubah perilaku saya karena saya masih memandang apapun dengan cara yang sama. RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi diganti nama menjadi RUU Pornografi, sekilas seolah ada perubahan dari penolakan menjadi pengaturan, tapi tanpa adanya perubahan cara pandang dari para perancang hasilnya akan sama saja.

Pornografi dan Tindakan Kriminal Seks

Beberapa perdebatan mengemukakan bahwa peng-antian pornografi diharapkan dapat menurunkan jumlah tindakan kriminal seks. Fakta memang memperlihatkan bahwa ada pelaku kriminal seks (bahkan anak-anak) yang terdorong oleh hasratnya saat mengkonsumsi film porno. Tapi mari tidak berhenti menggali dan merasa puas hanya sampai di situ. Saya menantang pengadaan survey untuk mendapatkan jumlah pengkonsumsi beragam materi pornografi di Indonesia, dan saya yakin kita bisa mendapatkan nilai yang sangat tinggi. Bahkan akan sangat tinggi bila kita bandingkan dengan jumlah pelaku tindakan kriminal seks. Hasil survey ini mungkin bisa memperkuat pendapat saya bahwa ada faktor lain yang lebih kuat sebagai pendorong para pelaku kriminal seks, yang saya percaya ialah faktor psikologis (sangat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya).

Sedikit Menyimpulkan Sendiri

Apa masalah terbesar zaman ini dalam pengaturan pornografi? Jawaban saya ialah internet. Dalam dunia maya tanpa batas ini hampir tidak mungkin menciptakan ruangan dengan aturan khusus yang tak bercelah. Kenyataan ini seharusnya menyadarkan kita bahwa kunci utama ada pada pengendalian diri masing-masing.

Jadi bila pornografi hanyalah pemicu, maka kunci utama inilah yang menentukan kelahiran seorang pelaku kriminal seks. Ya pa gak ya? (^_^) kaburrrr…….

Share this Post More

Leave a Reply