Bila BBM harus naik

Share More

Hari ini ialah hari peringatan 1 abad kebangkitan nasional, seluruh stasiun TV nasional secara serempak menyiarkan perayaan yang diadakan di Senayan, Jakarta. Bukan karena kurangnya rasa kebangsaan, kebetulan saya tidak bisa ikut menyaksikan karena sedang berada di luar rumah saat itu. Tapi jujur, mungkin juga karena rasa kebangsaan saya yang kurang, saya sendiri hampir lupa dengan hari kebangkitan nasional. Biasanya yang paling mudah kita ingat itu perayaan-perayaan yang ada liburnya saja (^_^)

Yah, selamat hari kebangkitan deh buat kita. Dan sepertinya selain rasa nasionalisme ada satu lagi yang akan bangkit dalam waktu dekat, Harga BBM 😛 hehehe. Kalau untuk yang satu ini saya ga bisa kasih selamat. Kalau BBM naek, semua harga juga naek. Syukur-syukur kalau gaji ikut naik. Toh itupun tidak akan membuat situasi menjadi lebih baik, hanya kembali normal karena semua harga juga sudah naik.

Gejolak? Pasti. Dalam keadaan apapun kenaikan harga BBM tidak mungkin tidak menimbulkan gejolak. Hanya saja, sangat disayangkan, karena sebenarnya ada 1 cara yang bisa membuat rakyat lebih ikhlas menerima kebijakan ini. Sangat sederhana, pemerintahan yang bersih dan terpercaya. Seandainya kita sebagai rakyat bisa merasakan bahwa pemerintah bekerja dengan jujur, efisien dan maksimal dalam segala aspek. Dari posisi terendah sampai tertinggi. Dan korupsi, kolusi dan nepotisme hanya menjadi ulah dari sebagian kecil orang dan dapat disebut sebagai oknum, bukan lagi kerusakan sistem yang menyebar seperti coklat di kue tart. Seandainya saat kita melangkah masuk ke kantor-kantor pemerintahan kita dapat merasakan pelayanan yang sangat memuaskan, tanpa menghawatirkan permintaan “pajak” tak tercatat, atau birokrasi indah yang tak perlu.

Saya ulang sedikit, bila rakyat bisa merasakan bahwa pemerintah sudah mentok, bahwa semua tindakan sudah efisien, semua usaha sudah maksimal, tidak ada lagi pemborosan yang tak perlu menggunakan uang rakyat, atau “pajak” pemotongan tak jelas, atau mark-up gila-gilaan yang sangat tidak masuk akal, seandainya… Maka saya yakin, gejolak yang timbul juga tidak akan besar. Maka saya sendiri akan menenangkan diri saya juga orang-orang di sekitar saya, bahwa sudah tidak ada lagi yang bisa di pangkas, sudah tidak ada jalan lain, harga BBM harus naik, dan kita harus belajar menerima kebijakan itu.

Yah, bila BBM harus naik… seandainya saja saat itu kita sudah merasakan…

Share this Post More

4 Responses to “Bila BBM harus naik”

  1. Jane Says:

    Whuee.. kalo BBM naik wlpn pemerintahnya terpercaya tetep aja tekor.. huehue.. sekarang wlpun cuma bolak balik kampus doank dua hari skali harus isi bensin.. 🙁
    anyway.. posting yang waktu itu.. emang sih gak bisa dipaksain sejak kecil, karena ngerti juga belum.. tapi masutnya at least mereka punya pengetahuan tentang tanah air sendiri.. kan udah kelas 4, 5 SD gituh.. masa WR Supratman aja gak tauu.. gawat tuh.. >.<

  2. OktaEndy Says:

    hari ini demo menolak kenaikan BBM dimana-mana. beberapa jalanan di Jakarta ditutup.. parah!
    dulu naik motor masih bisa pake pertamax, sekarang cuma bisa pake premium, nanti???

  3. kocu Says:

    Jane: Iya (^_^) setuju, emang tekor sih. Tapi kalau memang harus mau bagaimana lagi kan? Yang aku maksud itu sekarang menurutku pemerintah sangat boros, uang dipake kemana-mana ga ada yang jelas dan kerja sehari-hari juga terasa banget gak maksimal dan gak ada efisiensi. Tapi ko harga BBM ko mau dinaikkin? Gimana ga pada kesel kita sebagai rakyat?

    OktaEndy iya, dulu aku masih pake pertamax, tapi sekarang selalu premium. Waktu itu ganti bukan karena harga naek sih, tapi gara2 di bali susah cari pertamax (^_^) hoho, kalo sekarang mah boro2 ya, pake premium aja udah mulai pusing :-p

  4. yuli Says:

    Bersamaan dengan kenaikan BBM, aku baca buku menarik yang isinya antara lain menganjurkan kita pindah ke rumah yang lebih kecil supaya gak dikejar-kejar segala macam tagihan….yang kalo masih bisa lebih sederhana lagi hidup ini akan kujalani….

Leave a Reply