Generasi Komik vs Sinetron

Share More

Semakin banyak jenis hiburan yang dapat dengan mudah dinikmati oleh kaum anak jaman sekarang. Dari pengamatan saya di lingkungan keluarga, sepertinya Poin tertinggi dipegang oleh TV dan Buku. Bila dilakukan pengamatan lebih lanjut, pada group TV sepertinya sinetron akan menjadi pemenang, sementara pada group Buku saya rasa komik yang akan memenangkan suara terbanyak.

Lalu bagaimana pengaruh hiburan dalam pengembangan karakter suatu generasi? Saya melihat diri saya sendiri. Bila melihat ke zaman masih kanak-kanak dulu, saya masuk pada group TV dan juga buku. Untuk group TV, kebetulan zaman saya kecil dulu rasanya memang belum ada sinetron. Acara masih didominasi film seri import seperti MacGyver, Knight Rider, Airwolf dan teman-temannya. Sementara untuk buku, tentu saja komik. Jadi antara sinetron dan komik, bisa dibilang saya masuk ke generasi komik. Walaupun hanya sebagai media hiburan… Tidak, saya ralat. Justru karena media hiburan, banyak sekali pesan dan nilai dalam suatu cerita sampai dengan sangat efektif kepada penikmatnya, terutama bagi anak-anak yang cepat mencerna hal-hal baru. Saya percaya media hiburan memilik pengaruh yang besar dalam pengembangan karakter.

Sampai saat ini pun saya masih menjadi penggemar setia komik. Tapi sepertinya saya masih belum bisa menjadi penggemar sinetron. Saat ini sinetron ibarat makanan siap saji yang mengutamakan kecepatan proses pembuatan, tapi tidak benar-benar berguna bagi kesehatan. Sebaliknya, masih banyak nilai yang bisa saya dapatkan dari membaca komik, bahkan sebagai orang dewasa. Ada beberapa nilai yang saya pelajari dalam beberapa komik, tapi sayangnya bertentangan dengan nilai yang saya dapatkan dalam beberapa sinetron, antara lain:

  1. Karakter yang gigih berusaha. Sayangnya dalam sebuah sinetron, kegigihan dalam memperjuangkan sesuatu sepertinya tidak terlalu ditonjolkan. Saya lebih sering menemukan karakter utama yang pasrah dan berhasil dengan beragam kebetulan dan keberuntungan. Kegigihan malah diperankan oleh tokoh antagonis.
  2. Karakter yang tidak sempurna. Tidak ada seorangpun yang sempurna. Dalam sinetron banyak saya temukan karakter utama yang sempurna tak bercacat kebaikannya. Seolah tanpa cela yang selalu bisa menjadi teladan bagi teman-teman dan saudaranya dalam segala situasi. Tidak ada karakter yang sempurna, sangat baik bila masing-masing tokoh memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk saling mengisi. Mengajarkan bahwa dalam hidup kita membutuhkan peran orang lain untuk bisa mengisi kekurangan kita.
  3. Tokoh antagonis juga manusia. Sangat sering dilupakan dalam sebuah sinetron, bahwa tokoh antagonis juga manusia yang punya perasaan. Tidak ada manusia yang dilahirkan jahat. Karakter jahat terbentuk melalui berbagai macam proses yang ia alami selama kehidupannya. Untuk setiap peran jahat, seharusnya ada latar belakang cerita yang melahirkan kejahatan tokoh tersebut. Dan karakter jahat tidak bisa berubah begitu saja tanpa ada penyelesaian terhadap latar belakangnya.
  4. Melatih daya pikir. Sayangnya pada sinetron umumnya tokoh digambarkan terlalu jelas. Semua pemikiran tokoh banyak disampaikan melalui kata hati yang dapat didengar oleh penonton. Menurut saya sangat sayang, karena penonton tidak lagi terangsang untuk berpikir. Ini bisa membuat penonton terbiasa, sehinga dapat dengan mudah dicekoki berbagai hal tanpa berpikir panjang.

Tapi eh tapi, tetap peran terbesar dalam pembentukan sebuah generasi menurut saya ialah kehadiran orang tua. Akan semakin banyak media yang terus menghajar dengan berbagai nilai yang beragam, komik dan sinetron hanyalah beberapa contoh yang bisa diambil saat ini.

Share this Post More

2 Responses to “Generasi Komik vs Sinetron”

  1. yuli Says:

    setuju ….., peran ortu emang besar. anak saya kelas 4 SD penggemar komik juga. komik kesannya untuk semua umur, padahal gak juga kan..pernah dia baca komik remaja yg cerita ttg pacaran, dapat pinjem dari temen katanya….wah belum saatnya tuh….sejak itu saya ama suami mending beliin dia komik yg cocok ut usianya dan bisa membangun karakter dia

  2. kocu Says:

    yuli: wah, bagus tuh, sebagai orang tua memang harus peduli terhadap semua konsumsi anak apapun bentuknya.

Leave a Reply