mengasih(an)i – Part 2

Share More

Baca Part 1

Sore itu jalan Jakarta ramai seperti biasanya. Syukurlah belum jam 5, jadi masih agak lancar. Antrian lampu merah perempatan senen juga gak terlalu rame. Tapi seperti biasa, selalu ada beberapa anak-anak yang berkeliaran di perempatan Jakarta. Terlihat beberapa membawa barang jualan, dan beberapa yang lain hanya bermodalkan tangan dan ekspresi yg mengundang rasa iba. Hm, penumpang di taxi depan gw memanggil seorang anak yang berjualan koran, kita anggap saja namanya si Tukor. Dari siluet yang terlihat, penumpang taxi itu sepertinya seorang bapak dengan anaknya. Tukor pun menghampiri dengan senang dan memberikan koran yang diminta. Lalu si bapak pun memberikan beberapa lembar uang ribuan. Tukor menerima dengan ceria dan mulai kembali berkeliling. Melihat ada kaca jendela mobil yang sempat terbuka, ada anak lain yg segera menghampiri taxi tersebut, yang ini anggap namanya Tumin. Tumin menyodorkan tangan dan melihat ke dalam memelas. Sepertinya si bapak berbincang sedikit dengan anaknya. Kemudian… wah, ternyata dia kembali memberikan beberapa lembar ribuan, kali ini untuk si Tumin ~

Yap! Penggalan kejadian di atas ialah pengalaman gw beberapa bulan yang lalu saat masih di Jakarta. Bila diamati, semua orang pasti setuju bahwa Tukor dan Tumin tertolong hari itu. Mereka merasa sangat senang dengan penghasilan mereka. Dan si bapak anak pun pulang dengan rasa lebih senang karena telah mengulurkan bantuan hari itu.

Tapi bagaimana kelanjutan ceritanya? Sejujurnya sih gw juga gak tau pastinya, gw kan gak kenal ama si bapak anak di taxi dan Tukor Tumin. Tapi pasti ada hari2 sebelumnya, dan hari2 sesudahnya. Dalam hari2 itu pun ada pasangan bapak anak yang lain, walau tidak harus bapak anak, dan tidak juga harus naek taxi, tapi pasti ada yang tergerak untuk melakukan hal yang sama. Masing2 akan pulang dengan senang setiap harinya, yang membantu, maupun yang dibantu. Lalu? Hari jadi bulan, bulan naek tahun, waktu tidak berhenti. Tukor dan Tumin akan tumbuh dewasa dengan mental yang keras, sebagaimana mereka menjalani hidup mereka. Anggaplah…, anggaplah setelah dewasa nanti, mereka masih menekuni profesi yang sama. Tapi mungkin sudah dengan porsi yang lebih besar. Si Tukor nanti sudah akan punya kios koran kali ya? Baguslah. Lalu bagaimana si Tumin? Dia yang sudah biasa hidup dengan meminta, saat masih kecil mungkin ekspresi memelasnya bisa mengundang rasa iba banyak orang, tapi saat sudah dewasa? rasanya dia butuh lebih dari ekspresi memelas ~

Memang tidak ada yang bisa memprediksikan masa depan, apa yang terjadi 10 tahun, 20 tahun nanti, sudah diluar kuasa manusia untuk memastikan. Tapi, jelas bukan berarti tidak mencoba menentukan. Saat kita belajar malam ini, atau tidak belajar malam ini, akan menentukan hasil ujian besok, walaupun tidak 100% pasti hasilnya. Seandainya… seandainya saja Tumin tidak pernah menerima uluran tangan hasil ekspresi memelasnya, (mudah2an) dia bisa belajar untuk mengikuti jejak Tukor.

Share this Post More

4 Responses to “mengasih(an)i – Part 2”

  1. RMY Says:

    Mantap!!! Tulisan yang mengena…
    Kalau memberipun jangan beri umpannya, beri pancingnya…

    Jangan merasa bahwa memberi recehan bagi “Tumin” akan membantu mereka..Malah menyeret mereka dalam jerat kemalasan..

  2. kocu Says:

    RMY: Nah, cerita ini juga cuma pancing-nya 🙂

  3. Chen Hendrawan Says:

    Temans, mau kasih pancing apa? Mau kasih laptop (baca:OLPC) ? Apa anda yakin pancing yang anda kasih bisa beneran buat mancing ikan di selokan mampet bernama Jakarta ini? Jangan-jangan malah yang nyangkut di kail cuman sampah-sampah metropolitan! Unless we have something concrete to give, we only talk nonsense.

    Permasalahan orang-orang yang melihat kemiskinan dari balik kaca mobil adalah mereka tidak bisa membaui kemiskinan itu. Mereka bisa melihat tapi tak bisa meraba, mereka bisa dengar nyanyian kemiskinan itu tapi tak bisa ikut menari.

    Comment ini juga cuman mancing (di air keruh) kok 😀

  4. kocu Says:

    bener chen… 🙂

    seperti yang lu bilang, gw jg duduk di balik kaca itu, dan gw ga bisa meraba, mendengar atau bahkan ikut menari. Jujur gw ga kenal dengan kemiskinan (ini bukan statement nyombong ya), jadi gw tidak akan pernah mengerti apa yang mereka rasakan apalagi alasan dari keputusan yang mereka ambil. Dan gw gak akan berpura2 bisa.

    Gw juga tidak (/belum) terpanggil untuk melakukan sesuatu yang real. Gw cuma prihatin terhadap kebiasaan yang akan membentuk masa depan mereka.

    Sangat sayang kalau masa depan mereka tidak menjadi lebih baik hanya karena kami yang duduk di balik kaca ingin rasa aman dan secepatnya menjauhkan mereka dari kilap mobil yang mungkin baru dipoles atau sekedar ingin memuaskan diri dengan memberikan bantuan pada orang yang membutuhkan.

    Sangat sayang bila Tukor akhirnya mengikuti jejak Tumin yang tidak perlu capek2 bekerja bisa menghasilkan uang lebih banyak.

Leave a Reply