Baca Part 1
Sore itu jalan Jakarta ramai seperti biasanya. Syukurlah belum jam 5, jadi masih agak lancar. Antrian lampu merah perempatan senen juga gak terlalu rame. Tapi seperti biasa, selalu ada beberapa anak-anak yang berkeliaran di perempatan Jakarta. Terlihat beberapa membawa barang jualan, dan beberapa yang lain hanya bermodalkan tangan dan ekspresi yg mengundang rasa iba. Hm, penumpang di taxi depan gw memanggil seorang anak yang berjualan koran, kita anggap saja namanya si Tukor. Dari siluet yang terlihat, penumpang taxi itu sepertinya seorang bapak dengan anaknya. Tukor pun menghampiri dengan senang dan memberikan koran yang diminta. Lalu si bapak pun memberikan beberapa lembar uang ribuan. Tukor menerima dengan ceria dan mulai kembali berkeliling. Melihat ada kaca jendela mobil yang sempat terbuka, ada anak lain yg segera menghampiri taxi tersebut, yang ini anggap namanya Tumin. Tumin menyodorkan tangan dan melihat ke dalam memelas. Sepertinya si bapak berbincang sedikit dengan anaknya. Kemudian… wah, ternyata dia kembali memberikan beberapa lembar ribuan, kali ini untuk si Tumin ~
Yap! Penggalan kejadian di atas ialah pengalaman gw beberapa bulan yang lalu saat masih di Jakarta. Bila diamati, semua orang pasti setuju bahwa Tukor dan Tumin tertolong hari itu. Mereka merasa sangat senang dengan penghasilan mereka. Dan si bapak anak pun pulang dengan rasa lebih senang karena telah mengulurkan bantuan hari itu.
(more…)