Melihat Lebih ke Dalam

Share More

“Gak mau. Pokoknya aku gak mau! Kamu aja sana!”, seorang anak duduk di trotoar dengan muka merengut. Dia menolak ajakan teman yang berdiri di depannya.

“Goblok! Sampai kapan sih lu mau sok hebat? Seminggu ini lu cuma makan sekali sehari kan? Terserah lu lah!”, sang teman berjalan menjauh menuju keramaian pasar di seberang mereka. Krucuk… krucuk… Beberapa semut yang lewat merasa iba mendengar suara perut si anak. Sementara orang yang berlalu lalang bahkan tidak menyadari kehadirannya.

“Ugh, lapar…”, anak itu meringkuk sudah tidak bisa lagi menahan laparnya. Hari ini kondisinya sudah tidak seperti seminggu sebelumnya. “ibu…”, kata itu yg terakhir terucap sebelum dia pingsan.

       ***

Pasti ini surga, dia terkejut karena tiba-tiba dia sedang duduk di meja makan dengan kehangatan sebuah rumah. Semua terlihat sederhana, tapi kehangatan itu benar-benar membuat dirinya nyaman. Seorang wanita terlihat sedang sibuk menyiapkan hidangan.

“Ibu?”, bibirnya melirih pelan kata yang sangat ia rindukan. Ah, anak itu baru menyadari ada seorang lelaki yang duduk di seberang meja. Matanya menatap dengan hangat. Senyumnya… duh, tidak jelas, wajahnya tidak bisa terlihat jelas. hmmm…. wangi sekali bau masakan ini. Wanita itu mendekat membawa beberapa piring hidangan dan meletakkannya di atas meja. Ugh, wajahnya juga tidak terlihat jelas. “Aku ingin melihat… aku ingin lihat… ibukah? ayahkah?”

“Hoi! Hoi! Culik! Ayo makan dulu. Apa kamu mau pilih mati saja?”, suara itu menariknya dari alam surga impiannya.

“Lapar… Ibu…”

“Makan dulu nih, hari ini gw kasih menu spesial buat lu! nih, nasi rendang telur. Habisin ya!”, ternyata sang teman yang menyadarkannya. “Gw keluar dulu bentar”.

Wangi sekali, ternyata wangi hidangan dalam surga tadi itu berasal dari nasi bungkus ini. Anak itu seperti kesetanan segera melahap habis tanpa bicara. Dia sudah tidak perduli lagi bagaimana dia bisa sampai kembali di gubuk itu. Rendang itu terasa asin, tapi anak itu sudah tidak perduli. Dia tidak sadar bawah air matanya yang menambahkan rasa asin dalam makanannya. Sang teman menatap iba dari luar. Tanpa sadar air matanya ikut mengalir. Betapa terkejutnya dia melihat temannya pingsan sambil meringkuk di atas trotoar saat dia kembali.

Malam itu mereka tidur lebih nyenyak dari malam-malam sebelumnya. Keesokan paginya, si culik lebih dulu bangun dan bergegas pergi. Tepat dipintu suara sang teman menahan langkahnya, “Mau ke mana lu?”

“Hidup…” Jawabnya dengan senyum hambar.

       ***

Pemuda itu tergeletak di tengah jalan. Darah mengalir dari lubang di tubuhnya. Keramaian polisi di sekitarnya sudah tidak dapat lagi mengganggu ingatan lama yang tiba-tiba saja terlintas. Terlihat senyum hambar yang sama dengan belasan tahun lalu, saat mengayunkan langkah pertamanya mempertahankan hidup.

“Dudi culik namanya, dia preman pasar sini”. Salah seorang polisi mendekat dan memeriksa luka pada tubuhnya, “Sepertinya dia ditembak pelaku penculikan anak yang sedang kita kejar”, kemudian memeriksa denyut nadi pada tangannya. “Terlambat”, polisi itu melempar pandangan pada rekannya sambil menggelengkan kepala.

       end

Share this Post More

One Response to “Melihat Lebih ke Dalam”

  1. OktaEndy Says:

    Kadang aku berniat menulis, cerita singkat tapi gak kesampaian 😀
    membaca cerita2 seperti diatas kadang menimbulkan semangat buat menghayal, membayangkan skenario hidup yang tidak hanya terjadi diangan2 saja. bisa jadi sebuah kisah yang diluaran sana menjadi sebuah kisah yang nyata.

Leave a Reply