Me for Governor of Jakarta

Share More

Dalam suatu sesi chat ama si chenz pernah terbahas dengan ringan, bagaimana terpuruknya kondisi negara kita. Bahkan Jakarta sudah menjadi kota “teladan”-nya. Yah… 😕 gak sampai seberat itu juga sih bahasnya. Tapi, intinya dalam sesi itu sempat terlontar dari gw, bahwa terpikir juga untuk membenahi Indonesia ini, karena kalau cuma protes cuap cuap komentar dan mengeluh toh tidak akan memperbaiki apa2. Kebetulan sekarang lagi hot-hotnya pemilihan Gubernur Jakarta nih, apa gw ikutan aja ya? Kalau Jakarta udah bener, target berikutnya kan bisa jadi Presiden Indonesia 😆 Hyak hyak hyak

Pernah gak denger orang bertanya, “kapan ya Indonesia bisa menjadi negara berkualitas? Yang tidak dipandang remeh oleh negara-negara lain? Bahkan dapan dijadikan panutan”. Yah… Kata2nya sih gak harus persislah, tapi gw yakin kita semua sudah pernah mendengar pertanyaan2 sejenis.

Sedikit sharing aja, tadi malem gw mimpi, Indonesia berwujud, Indonesia menjadi suatu sosok individu, menangis tersedu di sudut kamarku. Dia merintih, perlahan terdengar sayu tangisnya “Kapan? kapan kalian berhenti menggerogoti aku?”

Entah kenapa aku refleks menyahut perlahan sambil sedikit mendekat, “Aku tidak, aku tidak pernah ikut-ikutan. Aku ini warga negara yang baik”

Dia mengangkat mukanya sedikit, hanya agar matanya bisa melihat wajahku. Seperti hanya ingin mencoba mengenali siapa orang yg menjawabnya, lalu kembali menunduk meringkuk. “Aku tahu”, suaranya masih terdengar sayu, “aku sering lihat kamu”.

“ha?” Cuma itu ekspresi yg keluar saat itu.

“Dan bukan cuma sering lihat,” Sambungnya, “Aku juga sering dengar. Tiap hari minimal satu kali kamu mengeluh tentang aku. Seminggu minimal dua kali kamu menyayangkan kondisiku. dan sebulan minimal tiga kali kamu menyakiti aku.”

Aku terdiam mencoba menalar maksud perkataan-nya. Tenggelam sesaat dalam renungku sendiri, tiba2 sosok Indonesia menghilang. Mataku berkeliling dalam gelap kamar tak berlampu mencoba mencari ke mana sosok itu menghilang. Dia sudah tidak ada. Bahkan setelah lampu kamar menyala, sosok itu tidak lagi terlihat.

Aku tidak sempat melihat wajahnya. Hanya tatapan dingin sejenak yang kaku, hanya itu yang masih segar dalam ingatanku. Benarkan dia perwujudan Indonesia? Atau hanya hantu iseng?

“Plak!” Eh, alarm bunyi, udah pagi lagi ya? Kayanya baru juga tidur. Bangun dengan kepala sedikit berat, melangkah ke kamar mandi sedikit terseret kaya zombie, dan melanjutkan hidup. Kutinggalkan mimpi pada tempatnya, tersembunyi dari dunia nyata. Akankah untuk selamanya?

Share this Post More

4 Responses to “Me for Governor of Jakarta”

  1. andi Says:

    Sejak lama, Indonesia udah memimpikan, menjadi negara yang “berkualitas” menjadi bangsa “terpandang”, menjadi tanah yang “bersahabat” bagi semua orang yang ada di atasnya.
    Saya, memimpikan hal itu juga.

  2. kocu Says:

    jadi didukung nih saya jadi gubernur jakarta? 😆 hyak hyak…

  3. OktaEndy Says:

    Aku seriangkali berfikir apakah memang negara ini gak bisa maju, atau rakyatnya yang gak mau maju.
    Banyak hal yang membuat kita gak bisa maju, salah satu nya yang paling simple adalah budaya antri.. kemacetan dijalanan sebagian besar karena kita gak mau antri. jalan 3 jalur jadi diisi 4 jalur dsb..
    Yang bisa dilakukan buat negara ini adalah masing2 orang berusaha untuk menjadikan negara ini lebih baik. lakukan lah perubahan kecil.. perubahan kecil.. dan semuga orang disekitar kita mau mengikuti jejak kita dan akan menjadi perubahan besar buat lingkungan kita.
    (Aku gak lagi tidur kan? gak lagi mimpi? jangan jangan ngigau! :D)

  4. kocu Says:

    @okta
    gw mau bales comment lu ta, tapi isinya itu bahan post gw berikutnya. Jadi nanti aja ya (^_^)

Leave a Reply