Sedia Payung sebelum Hujan

Share More

Sebuah peribahasa yang sangat terkenal di Indonesia. Anak-anak SD sudah pasti tahu apa arti dan maksudnya. Sayangnya, saat para guru mengingatkan mereka, saat yang bersamaan dunia mengajarkan mereka belajar melupakannya. Yah, mungkin bukan dunia, tapi lingkungan di Indonesia ini. Contohnya sih yang realistis aja, coba kita ingat2, di Jakarta, berapa kali dalam sehari kita bisa bertemu pengendara motor yang tidak menggunakan helm. Yang lebih menyedihkan lagi, karena tidak menggunakan helm sering gw melihat pengendara di bawah umur. Memang ada yang baik dan hati-hati, tapi tidak jarang juga yang urakan dan sok jago.

Riding BikeMelihat ini sering membuat gw berpikir, saat gw jadi orang tua nanti, akankah gw biarkan anak gw membawa sepeda motor sebelum waktunya, apalagi kalau tidak pakai helm. Kalau melihat pengalaman gw sendiri dulu, gw belajar mengendarai mobil sebelum waktunya (belum cukup umur untuk punya SIM). Tapi dari zaman abang dan kakak2 gw belajar mobil sampai ke gw, bonyok selalu gak bosen2nya menekankan 2 hal:

  1. tidak ada hebatnya kalau bisa bawa mobil, kita cuma akan jadi sama dengan supir-supir lain, supir angkot, supir taxi, supir bus, ya supir.
  2. saat kita nyetir mobil, satu kaki di mobil, satu sudah di penjara, salah sedikit bisa-bisa langsung masuk penjara dua2nya. Jadi harus selalu hati-hati.

Dari pengalaman gw sekeluarga, cara ini cukup efektif untuk meredam keinginan bawa mobil, apalagi rasa sok hebat dan kebiasaan ugal-ugalan. Kalau motor sih, gw baru belajar tahun ini 😆 hyak hyak.

Kembali ke payung, kita seperti melupakan kenapa peraturan itu diberlakukan. Kenapa pengendara motor harus pakai helm? Peraturan selalu bisa kita anggap sebagai bentuk resmi pencegahan. Jelas bagi pengendara motor, kecelakaan dapat berakibat fatal bagi kepala, dan helm adalah salah satu perlindungan pertama. Tapi, kebiasaan buruk kita ialah bertoleransi dengan pelanggaran kecil. Kita sering berpikir, “ah, sedikit saja” atau “ah, deket ko” atau “ah, cuma sebentar ko”. Pencegahan itu memang tindakan yang diambil sebelum sesuatu terjadi, jadi kalau sudah kecelakaan baru mau nurut ama peraturan itu namanya swama swaja bwohong.

Kid with BikePeraturan lainnya, kenapa mereka yang di bawah umur belum boleh bawa motor? Ada batas umur yang menjadi persyaratan untuk mendaftar pembuatan SIM. Gw yakin persyaratan ini ada di seluruh dunia, dan itu bukanlah sekedar iseng2nya orang yg buat peraturan. Dari pandangan gw pribadi berikut beberapa landasan peraturan tersebut:

  • Pertama, pengendara motor sering harus mengambil keputusan dalam waktu yang singkat. Apakah harus nge-rem atau nge-gas, harus ngiri atau nganan, atau bahkan saat harus menghindari sesuatu yang tiba2 nongol. Memang usia tidak bisa benar-benar menjamin kemampuan seseorang dalam hal ini, tapi logikanya saja, secara umum orang yang belum dalam usia dewasa pasti akan lebih sulit mengatasinya.

  • Kedua, pengendara motor harus bisa bertanggung jawab atas konsekuensi apapun yang terjadi saat itu. Seandainya dia jadi korban (amit2 ya), mau bilang apa, paling dia yang diurus. Tapi, seandainya dia makan korban? Menabrak orang lain misalnya (amit2 lagi ya), bagaimana seorang yang belum dalam usia dewasa bertanggung jawab? Sementara untuk makannya sehari2 saja dia belum bisa bertanggung jawab sendiri. Ditambah dengan beban mental yang nanti akan mereka tanggung seterusnya.

Dari kedua hal diatas gw tarik garis merah, bahwa hal utama ialah belum berada dalam usia dewasa. Memang dewasa bukanlah batasan usia, tapi dunia mengakui adanya standar usia seorang manusia dianggap dewasa, atau mungkin lebih tepat standar usia seorang manusia seharusnya sudah menjadi dewasa.

Masih banyak peraturan lain yang dibuat sebenernya untuk menjaga keselamatan kita dan lingkungan kita sendiri. Kesimpulannya? Gak perlu kesimpulan, gw cuma mau menghimbau, mari kembali kita kenang pribahasa klasik kita, yang sudah kita pelajari dari SD: Sedia payung sebelum hujan. Sebisa mungkin, marilah kita selalu mengikuti peraturan yang ada, dengan segala keterbatasan kita.

Share this Post More

Leave a Reply